Saturday, January 4, 2020

PEMANFAATAN SAMPAH SEKOLAH UNTUK PEMBUATAN ALAT PELAJARAN



Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran di sekolah dipengaruhi beragam faktor. Salah satunya adalah kecakapan guru yang terdiri atas kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Faktor berikutnya ialah potensi siswa berupa kemampuan belajar dan berlatih untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai bakat dan minatnya. Faktor penentu lainnya adalah kemampuan manajemen sekolah dalam menyiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran dan ketercukupan sarana prasarana pendukungnya untuk menciptakan iklim belajar yang baik.
Salah satu unsur sarana yang harus disediakan oleh sekolah adalah peralatan pendidikan. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana Prasarana Sekolah/Madrasah Pendidikan Umum, peralatan pendidikan adalah sarana yang secara langsung digunakan untuk pembelajaran. Sarana tersebut dapat berupa alat pelajaran, alat peraga, dan alat praktikum. Berbeda dengan definisi tersebut, Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak mencantumkan tentang peralatan pendidikan. KBBI hanya menyatakan bahwa alat pelajaran adalah segala sesuatu yang diperlukan untuk keperluan proses belajar-mengajar. Bagaimana pun juga, tentulah beragam jenis sarana pendidikan sangat diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran.
Penggunaan alat pelajaran sangat membantu guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Guru terbantu dalam meminimalkan komunikasi verbal sehingga guru tidak harus selalu menjelaskan materi secara detail. Guru dapat menampilkan fenomena maupun materi ajar melalui alat peraga dan alat praktikum yang dipergunakan. Guru menyajikan materi ajar dengan cara menyenangkan, melibatkan siswa secara aktif. Sementara itu, siswa tidak menjadi bosan dengan aktivitas monoton seperti mendengar penjelasan guru semata. Siswa dapat tertantang untuk belajar melalui aktivitasnya sendiri, tentu saja di bawah pengawasan guru. Mereka dapat melakukan eksplorasi pengetahuan dan mencoba keterampilan baru melalui alat pelajaran yang tersedia. Mereka dapat belajar berdiskusi dan melakukan analisis serta presentasi tentang pengetahuan, keterampilan, dan ide baru yang mereka peroleh. Siswa dapat memperkaya pengalaman dan mempertajam naluri keilmuan yang berkaitan dengan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang berlangsung terpusat kepada aktivitas siswa untuk memahami substansi materi ajar. Dengan demikian siswa dapat memiliki momen untuk belajar memahami sesuatu dan sekaligus memperoleh manfaat dan makna pembelajaran yang dijalaninya.
Akan tetapi, sangat umum terjadi di berbagai sekolah adalah ketersediaan alat pelajaran sangat terbatas. Tidak semua sekolah memiliki sarana yang lengkap bahkan untuk hanya sekadar memenuhi standar minimal. Selain itu, alat pelajaran tersebut sering kali tidak tersedia untuk semua mata pelajaran. Ada mata pelajaran yang relatif lengkap peralatannya sementara yang lain sangat kekurangan.
Kekurangan alat pelajaran berupa alat peraga dan alat praktikum sejatinya menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Guru ditantang untuk menampilkan kreativitas dan ide inovatif untuk mengatasi kekurangan alat pelajaran. Meskipun tidak dapat disamaratakan namun banyak alat pelajaran yang dapat dibuat sendiri oleh guru, bahkan oles siswa. Boleh jadi alat tersebut terlihat sepele tetapi fungsinya dapat memenuhi kebutuhan guru dalam melaksanakan pemindahan ilmu. Bahkan alat pelajaran itu dapat menjadi alternatif pengganti alat canggih yang sulit dibeli oleh sekolah. Atau malahan karya tersebut menjadi inovasi penting sebab belum pernah ada alat serupa di belahan dunia manapun.
Salah satu cara yang dapat dilakukan guru adalah memanfaatkan barang bekas atau sampah di sekolah. Beragam jenis sampah dapat ditemukan di sekolah. Kertas, botol plastik, gelas plastik, dan sampah organik dari tumbuhan adalah contoh jenis sampah yang paling banyak ditemukan.
Sampah kertas yang telah diolah menjadi bubur kertas dapat dimanfaatkan untuk membuat benda model atau cutaway objects dan alat peraga. Benda model maupun alat peraga sangat dibutuhkan oleh guru geografi, kimia, biologi, fisika, ekonomi, dan sejarah dalam menjelaskan materi ajar. Sebagai contoh, guru geografi dapat membuat model gunung berapi, batas lempeng tektonik, bentuk lipatan dan patahan, bentuk relief muka bumi, globe, dan peta timbul. Bagi guru lain, bubur kertas dapat dibuat torso/maneken, model virus, benda prasejarah, prasasti, monster barang ekspor-impor, dan lain-lain sesuai kreativitas masing-masing.
Sampah plastik berupa botol dan gelas bekas dapat dibuat menjadi alat percobaan/eksperimen maupun alat praktikum. Misalnya, bagi guru geografi dan fisika, sampah tersebut dapat dibuat menjadi alat eksperimen tekanan udara, kondensasi, hujan, perpindahan kalor dan arus konveksi pada fluida, arus laut, geyser, letusan gunung berapi, dan angin tornado. Bagi guru lain, botol dan gelas plastik dapat dimanfaatkan untuk menjadi tabung reaksi, wadah media tanam hidroponik maupun aeroponik, dan alat permainan/olah raga.
Selain sebagai bahan pembuatan alat pelajaran, berbagai jenis sampah di sekolah juga dapat dijadikan bahan prakarya. Jenis prakarya berbahan plastik sudah banyak dibuat di sekolah, terutama di sekolah dasar. Namun pemanfaatan sampah kertas untuk bahan prakarya belum banyak dikembangkan. Hal ini menjadi tantangan lain bagi guru, terutama guru seni rupa.
Penulis telah memanfaatkan bubur kertas untuk pembuatan benda model dan alat eksperimen. Demikian pula dalam memanfaatkan botol dan gelas plastik telah penulis lakukan sejak belasan tahun silam untuk pembuatan alat eksperimen sains. Selain itu, pemanfaatan bubur kertas, abu gosok, serbuk gergaji, dll. juga telah penulis lakukan untuk pembuatan beragam jenis karya seni kriya.
 Bagi rekan guru yang tertarik membuat karya berupa alat peraga, alat eksperimen, dan prakarya yang terbuat dari barang bekas dapat melihat sejumlah contoh karya penulis di blog www.jidint.blogspot.com dan di kanal Youtube #jidintNEKADBERBAGI. Semoga bisa menginspirasi. (Jidint/30122019)

MUJAHIDIN AGUS
Guru Geografi SMAN 3 Palopo

Catatan: Tulisan ini telah dimuat di harian Palopo Pos, Selasa/31 Desember 2019

Gambar mungkin berisi: 1 orang

Karya siswa SMAN 3 Palopo, 2015.

Karya Jidint, 2012. Juara 1 Gupres SMA Tk. Nasional, Jakarta 2016.

Karya Jidint, 2011. Juara 1 Gupres SMA Tk. Nasional, Jakarta 2016.

Karya Jidint, Juara 3 Lomba Keberhasilan Guru SMK Tk. Nasional, Jakarta 2002.

No comments: