Tuesday, August 11, 2020

Kasus Perbedaan Waktu - contoh saja

Kasus 1.
Apabila Anda melakukan perjalanan darat dari Kalimantan Timur menuju Kalimantan Tengah (melintasi perbatasan provinsi), apa yang Anda lakukan terhadap jam tangan untuk menyesuaikan waktu setempat? Mengapa demikian?

Kalimantan Timur masuk dalam Waktu Indonesia Tengah (WITA) sedangkan Kalimantan Tengah masuk dalam Waktu Indonesia Barat (WIB). WITA lebih cepat satu jam daripada WIB, maka ketika berjalan dari Kaltim ke Kalteng dan melintasi batas provinsi maka Anda harus mengubah jam tangan Anda lebih lambat (mundur) satu jam untuk menyesuaikan waktu setempat (WIB). Hal ini terjadi karena salah satu batas pembagian waktu di Indonesia mengikuti batas provinsi antara Kaltim dan Kalteng. Hal serupa terjadi jika Anda berjalan dari Kalimantan Selatan menuju Kalimantan Tengah.
Jika melakukan perjalanan dengan arah sebaliknya, dari Kalteng menuju Kaltim dan dari Kalteng menuju Kalsel maka Anda harus mengubah jam tangan satu jam lebih cepat untuk menyesuaikan waktu setempat (WITA)

Jenis perjalanan baik darat maupun laut dan udara, tidak menjadi masalah karena tidak memberikan pengaruh apapun terhadap penyesuaian waktu. Perubahan atau penyesuaian waktu tetap harus dilakukan meskipun Anda hanya berjalan kaki melintasi batas provinsi antara Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Timur serta antara Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Selatan.

Batas waktu di Indonesia yang mengikuti batas provinsi di darat hanya ada di pulau Kalimantan. Batas waktu lainnya tetap mengikuti batas provinsi tetapi bukan di darat melainkan batas di laut, misalnya batas WIB dan WITA terletak di selat Bali (antara pulau Jawa dan pulau Bali).




Kasus 2.
Jika Anda melakukan perjalanan dari Tokyo menuju Hawaii (melintasi Batas Tanggal Internasional) apa yang harus Anda lakukan untuk menyesuaikan waktu dan hari/tanggal setempat? Mengapa demikian?

Perjalanan dari Tokyo – Jepang yang terletak di belahan bumi Timur menuju ke Hawaii yang terletak di belahan bumi Barat akan melintasi Batas Tanggal Internasional.
Jika melintasi Batas tanggal Internasional dari arah Barat ke Timur (dari belahan bumi timur ke belahan bumi barat) atau dengan kata lain melintasi 180o Bujur, maka Anda harus mengubah waktu menjadi lebih lambat satu hari dibandingkan waktu/hari tempat asal Anda di belahan bumi Timur (Tokyo).

Hal ini terjadi sebab ketika Anda melintasi bujur 180o maka wilayah belahan bumi barat saat itu masih berada pada waktu/hari/tanggal yang lebih lambat daripada waktu di kota Tokyo. Sementara ketika Anda melintasi bujur 180o tersebut berarti Anda telah mendahului satu hari lebih cepat daripada waktu belahan bumi barat (Hawaii). Maka Anda harus mengundurkan waktu satu hari lebih lambat daripada waktu Tokyo untuk menyesuaikan waktu di Hawaii.


Kasus 3.
Apabila Anda melakukan perjalanan dari Padang menuju Kuala Lumpur – Malaysia (melintasi perbatasan negara), apa yang Anda lakukan terhadap jam tangan Anda untuk menyesuaikan waktu setempat? Mengapa demikian?

Secara astronomis posisi Kuala Lumpur terletak di sekitar 105o BT yang sama dengan GMT +7 jam. Akan tetapi patokan waktu Malaysia ditetapkan pemerintah yaitu GMT +8 jam yang sama dengan Waktu Indonesia Tengah (WITA). Dengan demikian jika terbang dari Padang menuju Kuala Lumpur itu sama halnya dengan Anda terbang dari WIB (Padang) menuju WITA yang sama waktunya dengan Kuala Lumpur.
Berarti Anda harus memajukan jam tangan Anda satu jam lebih cepat untuk menyesuaikan waktu di Kuala Lumpur (GMT +8 jam).


Kasus 4.
Jika Anda melakukan perjalanan dari Meksiko menuju Jaya Pura (melintasi Batas Tanggal Internasional) apa yang harus Anda lakukan untuk menyesuaikan waktu dan hari/tanggal setempat? Mengapa demikian?

Meksiko terletak di belahan bumi Barat yang waktunya lebih lambat daripada belahan bumi Timur, sementara Jaya Pura terletak di belahan bumi Timur. Oleh sebab itu, ketika Anda terbang dari Meksiko ke arah Barat menuju Jaya Pura dan melintasi bujur 180o maka berarti Anda “mempercepat” waktu/hari/tanggal satu hari lebih cepat. Maka ketika melintasi bujur 180sebagai Batas Tanggal Internasional maka Anda harus memajukan waktu di jam tangan Anda satu hari lebih cepat ketika sampai di Jaya Pura untuk menyesuaikan waktu setempat.


Demikian penjelasan ini. Mohon disampaikan jika ada koreksi dan penyempurnaan. Terima kasih. 
Semoga bermanfaat.





Foto hanya ilustrasi (Jidint's)





Saturday, August 8, 2020

AKU INGIN TERBANG! - CerpenKOE - Juara 7 Nasional



Aku bersandar ke dinding dekat jendela. Pandanganku melayang jauh ke atas awan. Arak berarak putih laksana kapas, gumpalan awan itu melingkupi bumi biru. Aku takjub. Tak pernah aku melihat pemandangan serupa ini. Di ujung, nun jauh di sana menggelantung awan kumulonimbus serupa gadah raksasa menjulang jauh di atas kami. Semburat warna kuning berpadu jingga sangat indah menghiasi satu sisi. Awan putih keabu-abuan diselingi warna gelap di sisi lain menampilkan paduan yang semakin indah.
Sebenarnya, jam tidur seperti ini mataku sangat lelah dan mengantuk. Namun kali ini beda, sangat berbeda! Kupaksakan mataku untuk tidak terlelap. Aku ingin menikmati awan menghampar di sana. Keindahan dan keteduhannya kuresapkan ke dalam hatiku. Deru mesin mendengung di telingaku takkan mampu mengusik rasa yang sedang kunikmati. Aku masih terus menatap hamparan awan. Perlahan hamparan itu berubah menjadi lebih tebal. Tebal, gelap….dan akhirnya ….
Aku telah berada di masa kecilku.
“Oooeeee…. Bacooo…. Ada kapal terbaaaaang!” suara teriakan memanggilku terdengar dari tepi jalan. Aku terhenyak dari lamunan. Sudah kubayangkan pasti bukan cuma Udin yang berteriak-teriak kegirangan. Aku bergegas menyambar baju kaos di sandaran kursi lalu berlari menuju pintu depan. Suara lantai kayu rumah panggung kami berdentum beriringan, gemuruhnya seperti suara ledakan senapan. Kukenakan baju sambil berlari. Lalu kedua kaki mungilku lincah menjejaki anak tangga satu demi satu dengan sangat cepat. Jauh lebih lincah daripada jemari pemain piono. Nadanya beralun kurang dari dua detik pada 13 anak tangga. Tapi….. eh, hanya 12 sebab anak tangga paling bawah tidak kujejak lagi, kulangkahi lalu langsung melompat ke tanah. Aku berlari secepat kilat menuju jalanan. Aku tak mau ketinggalan meskipun sedetik saja. Hal itu sangat beralasan, kami jarang melihat kapal terbang melintas di atas kampung kami, desa Ugi. Jikalau pun ada yang melintas, pastilah nun jauh tinggi di angkasa. Itu pun hanya beberapa detik lalu ia akan menghilang di balik awan.
“Oeeeee… kapal terbaaannnggg…. Turunlah kemari…,” teriakku sekeras mungkin padahal aku belum melihat kapal terbangnya. Begitulah kami menyebutnya, bukan pesawat udara. Sambil berlari kepalaku mendongak ke arah langit. Mataku mencari-cari kapal terbang. Aku tak pedulikan kedua kakiku menjadi kotor oleh lumpur. Hujan semalam telah membecekkan tanah dan jalanan di kampung kami. Jalanan di kampung kami memang tak ada yang berupa aspal. Semuanya masih jalan tanah dengan batu kali kecil untuk mengeraskannya. Di sana sini terdapat kubangan air yang telah bertransformasi menjadi lumpur liat berwarna coklat. 
Saat tiba di kerumunan teman-temanku, arah pandanganku mengikuti telunjuk mereka. Oleh karena terburu-buru, hampir saja aku terpeleset. Aku menabrak Udin. Untungnya dengan badan yang lebih kekar, ia sigap menangkapku sehingga aku tidak jadi terjerembab ke tanah. Seakan tidak peduli lagi, kami berteriak kegirangan, sahut bersahut.
“Kapaaalll…. Jatuhi kami uaaannggg…,” teriak Saleh tak mau kalah nyaring. Malahan ia berteriak sambil berlonjak-lonjak. Maklumlah, ia paling kecil di antara kami, berarti paling jarang melihat kapal terbang.
“Iyaaa…. Jatuhi kami uaaannnnggg…,” suara lantang kami secara bersama mengulang teriakan Saleh.
Beberapa saat, sekira lima detik kemudian, kegirangan kami terhenti. Ada sedikit kekecewaan terbersit. Akan tetapi raut wajah kami tetap berseri. Mataku berbinar saking riangnya telah melihat kapal terbang. Betapa tidak, bulan lalu terakhir kami ingin merasakan kegembiraan yang sama, ternyata kami hanya dapat mendengar deru mesin kapal terbang. Seluruh penjuru penglihatan kami terhalang awan tebal. Waktu itu kami lesu dengan wajah tertunduk.
Aku sering menghayal suatu saat bisa terbang walaupun aku tak tahu persis bentuk kapal terbang itu bagaimana. Untunglah aku memiliki paman yang menjadi guru di kota Sengkang. Setiap pulang kampung beliau selalu membawakan aku guntingan koran atau majalah. Beliau tahu persis aku sangat senang dengan gambar kapal terbang. Apalagi kegemaranku menggambar kapal terbang, jangan ditanya, aku sangat tergila-gila. Semua bukuku pasti ada gambar kapal terbangnya, bahkan beberapa buah. Setiap ada waktu senggang, pasti aku menggambar kapal terbang. Meskipun awalnya aku lebih sering menyontek dari koran atau majalah tadi, namun akhirnya aku bisa menggambar tanpa menyontek. Bahkan aku bisa membuat model kapal terbang dari tanah liat walaupun masih sederhana. Ini salah satu kegemaranku juga. Menurut paman, untuk usiaku yang sembilan tahun gambarku sudah sangat bagus. Tentu aku bangga dengan pujian itu. Tapi aku tidak sombong. Aku hanya sangat gembira karena pujian itu sama dengan kekaguman ibu, teman-teman, dan guruku. Lalu bapakku bukannya tidak kagum? Jelas tidak kagum karena beliau sudah tiada sejak aku masih balita.
Tiba-tiba….
“Ciiiiit… ciiiit… ciiiit!” Suara mendecit terdengar beberapa kali disertai goncangan lumayan keras.
Aku terkejut, gelagapan. Badanku semakin terguncang. Rupanya baru saja aku melamun dan bunyi ban beradu dengan aspal telah menyadarkanku. Serta merta aku mengusap mata sambil melirik ke teman dudukku, seorang lelaki bule setengah baya. Ia mengulum senyum, mungkin menahan rasa geli melihatku tadi. Aku hanya membalas dengan senyum di ujung bibir sambil menundukkan kepala tanda hormat. Kubalikkan pandangan ke jendela. Aku terkejut, awan putih yang menakjubkanku tadi telah menghilang, berganti dengan rumput dan pepohonan yang menghijau. Aspal hitam kulihat bagaikan berlari menjauhiku dengan sangat laju. Aku tersadar, rupanya kapal terbang yang kutumpangi telah mendarat dengan sempurna. Alhamdulillah.
Ingatanku tiba-tiba tertuju ke ibu. Perasaan baru saja beliau melepasku merantau untuk kuliah ke negeri orang. Pekan lalu kami berpisah di terminal sebelum bis antarkota membawaku menuju Makassar. Aku menangis tersedu-sedu. Tetapi ibuku dengan tegar berusaha menahan air matanya. Kutahu, beliau telah kenyang dengan kesedihan. Perjuangan beliau menghidupi aku dan kakakku sungguh sangat luar biasa. Syukurnya kami berdua tetap dapat melanjutkan sekolah berbekal beasiswa. Kakakku kini telah meraih cita-citanya, menjadi guru SD di kampungku.
Lalu saat ini, aku masih berada di dalam pesawat udara. Ingat, bukan di atas ya! Hehehe… Akhirnya impianku untuk terbang telah tercapai. Beberapa menit berselang pesawat berhenti dengan sempurna. Setelah berkemas, aku mengikuti arus gerak penumpang.
Welcome to Aeronautics & Astronautics Engineering of Stanford University, Baco! ucapku dalam hati saat menjejakkan kaki di garbarata. Aku tersenyum sendiri sembari menghirup udara California. Berbekal doa restu ibu dan ridha Ilahi, aku yakin beasiswaku kali ini dapat mengantarkanku menjadi perancang pesawat udara (Jidint).


Alhamdulillah, cerpen ini bisa Juara 7, meskipun targetku masuk TIGA BESAR. Tapi lumayanlah untuk sebuah cerita yang kutulis secara nekat. Telah diterbitkan bersama karya peserta lain, naskahku hanya empat halaman dari 563 halaman bukunya.



Foto ini hanya ilustrasi
Foto ini hanya ilustrasi



Wednesday, August 5, 2020

SELFIE EXPERT IN BEIJING


SELFIE EXPERT IN BEIJING

Semasa kecil salah satu impian terbesarku adalah terbang dengan menggunakan pesawat terbang. Tentu saja waktu itu aku tidak tahu bagaimana caranya untuk meraih impian itu. Hidup di kampung yang terpencil dengan masyarakat petani yang serba sederhana adalah kesaharian kami. Walaupun ayahku seorang guru matematika dan bahasa Inggris di satu-satunya SMP di Kec. Sabbangparu, Kab. Wajo namun itu belum cukup membuka cakrawala berpikirku tentang pesawat terbang. Betapa tidak, kapal terbang – begitulah kami menyebutnya – yang biasa kami lihat hanya sesekali melintas jauh di angkasa di atas kampung kami, Ugi. Saat itu, aku dan teman-teman sebayaku akan berteriak-teriak dan melonjak-lonjak gembira ketika kapal terbang itu terlihat meskipun hanya beberapa detik.
Oee….. kappala luttuuuu… nonnoki mae….,” suara teriakan kami dengan bahasa Bugis. Artinya, “Hai kapal terbang… turunlah kemari…”
Buangakki mae doweee….,” suara teriakan lain yang kami lantungkan tanpa pikir bahwa itu takkan berguna. Artinya, “Jatuhkan uang buat kamiiii….”
Saat kapal terbang itu menghilang di balik awan maka kami merasa kehilangan sebab tidak tahu kapan lagi kami akan mengalami kegembiraan serupa. Apalagi saat musim hujan, tentulah kami tidak bisa melihat kapal terbang sebab tertutup awan tebal. Kalau pun ada yang melintas, biasanya hanya dapat kami dengar suara gemuruhnya, itupun jika hujan tidak turun.
Hingga keluarga kami pindah bermukim ke Ujungpandang (sekarang Makassar) di akhir tahun 1970-an aku tak pernah membayangkan untuk bisa terbang. Padahal SD, SMP, dan SMA aku jalani di kota besar itu. Bahkan saat kuliah di IKIP Ujungpandang, mimpi itu belum terbayang sama sekali. Ternyata takdirku untuk terbang  mendekapku saat mendapat predikat sebagai Mahasiswa Berprestasi IKIP Ujungpandang tahun 1992. Saat itulah pertama kalinya aku terbang menggunakan pesawat. Aku berangkat ke Jakarta tanpa ditemani siapa pun, maksudku tentulah hanya bersama kru pesawat dan sesama penumpang saja. Meskipun bukan pesawat besar namun pesawat itu jenis jet milik maskapai Sempati Air.
Salah satu rangkaian acara yang kami ikuti adalah Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-47 di Istana Negara. Sebelum memasuki pintu gerbang istana, kami antre untuk diperiksa. Salah satu obyek yang diperiksa dengan teliti adalah kamera. Setiap kamera harus dikutip kosong oleh petugas untuk memastikan bahwa benda itu tidak berbahaya. Tentu saja waktu itu kami menggunakan kamera roll film, kamera digital belum umum dipakai. Bahkan kamera roll film saja masih menjadi barang mewah. Aku belum sanggup memilikinya sehingga harus meminjam milik Suparno, teman kuliahku.
Saat tiba giliranku diperiksa, petugas hendak meraih kamera di tanganku tapi kucegah. Kupikir daripada satu kutipan terbuang percuma, mendingan aku memotret diriku sendiri. Jadilah aku melakukan “selfie” pertamaku tepat di usia 23 tahun tanggal 17 Agustus 1992. Menurutku itu merupakan salah satu momen terbaik dalam hidupku yang hingga sekarang foto hasil cetaknya masih tersimpan.
Nah, setelah masa itu, aku tidak ingat lagi kapan persisnya mulai hobi memotret diri sendiri. Meskipun masih menggunakan kamera roll film sering kali aku selfie apalagi sejak memiliki kamera sendiri. Aku sering selfie jika berada pada lokasi tertentu yang unik atau tempat yang pertama kali kudatangi. Aku pernah selfie dengan latar belakang siswaku di SMP Negeri 5 Takalar ketika kami belajar di luar kelas tahun 2003. Bahkan aku pernah selfie bersama Prof. Bambang Sudibyo saat beliau menjabat masih Menteri Pendidikan.
Hobiku berselfie makin menjadi-jadi sejak aku memiliki handphone berkamera 2 MP hadiah dari Pantech. Hadiah itu kuperoleh melalui seleksi karya tulis tingkat nasional tahun 2006. Meskipun hape itu belum memiliki kamera depan tapi aku sudah terbiasa menggunakan kamera belakang sebelumnya. Bahkan hingga saat ini aku alergi menggunakan kamera depan untuk berselfie, termasuk untuk merekam video. Menggunakan hape berkamera digital membuatku lebih leluasa berselfie. Sejak 2007 aku telah memotret maupun berselfie dengan sejumlah pejabat dan artis nasional, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudoyono kala itu.
Pada tahun 2015 aku pernah melakukan selfie dengan Presiden Joko Widodo menjadi latar belakangku sekitar dua meter jaraknya. Waktu itu usai acara puncak Peringatan Hari Guru Nasional, Pak Presiden mendatangi kerumunan guru yang antusias mau berjabat tangan. Aku pun ikut berjejal mendekat dan berhasil berjabat tangan dengan beliau. Malahan aku sempat menyampaikan kiriman salam dari rekan guru di Palopo dan beliau menimpali dengan ramah. Kemudian aku bermaksud berselfie dengan jarak dekat tetapi pengawal beliau melarang dengan tegas. Agaknya waktu itu Pak Jokowi belum hobi selfie deh. Akhirnya aku mundur menjauh beberapa langkah dan “mencuri” kesempatan berselfie dengan gerak cepat, tentu saja tidak menggunakan kamera depan ya!
Momen kedua, saat puncak Peringatan Hari Guru tahun 2018 di Stadion Pakansari Bogor. Sebenarnya aku bahkan duduk berdampingan dengan Presiden Joko Widodo di tribun utama dan sambil ngobrol. Akan tetapi karena momennya tidak cocok akhirnya aku tidak bisa berselfi dengan beliau saat itu. Lalu saat beliau berpidato di podium maka kesempatan itu kumanfaatkan lagi untuk berselfie dengan latar belakang Pak Jokowi meskipun Prof. Unifah, Ketua Umum PGRI, menjadi agak kesal dengan tingkahku itu. Hehehehe…. Maafkan daku ya, Bu. Efek guru “agak nakal” nih?
Seusai acara itu tentu saja aku sempatkan berjabat tangan dan berfoto dengan Pak Presiden, meskipun bukan selfie tapi dipotret oleh pengawal beliau. Di ruang bawah tribun utama, saat beliau hendak pulang para penerima Satyalancana Pendidikan berfoto bersama. Usai foto bareng, Pak Jokowi berselfie dengan kami tapi karena aku berada di belakang maka pastilah tidak termuat di hape beliau. Makanya aku dengan sigap berselfi dengan obyek Pak Jokowi berselfi juga. Hahahaha…
Maaf, nah kira-kira dengan bekal kisah nyata itu sudah pantaskah aku disebut seorang selfie expert? Silakan kawan menilai sendiri, aku cuma bisa mengklaim sepihak. Jika diakui ya… tidak masalah, kalaupun masih meragukan ya… juga tidak masalah sih. Tapi perlu diketahui bahwa aku tidak egois ya, aku tetap memotret objek menarik apapun walau tanpa ada aku di dalamnya. Jika hal itu belum cukup untuk meraih gelar selfie expert apalagi pakai kata in Beijing maka mari melanjutkan membaca kisahku.

Terbang ke Beijing pada tanggal 17 April 2017 merupakan salah satu kisah luar biasa yang kualami. Betapa tidak, meskipun aku sudah puluhan kali naik pesawat tapi itu merupakan pengalaman pertama kali terbang keluar negeri. Selain itu, sejak SD aku sudah mengenal tujuh keajaiban dunia, salah satunya adalah Tembok Raksasa China. Berkunjung ke negara itu, apalagi ke tembok raksasanya menjadi obsesiku sejak lama. Saat duduk di SMP dan SMA aku sangat antusias membaca majalah tentang negara itu dan berbagai kisah kekaisarannya. Malah aku sudah tahu kisah kaisar terakhirnya, Kaisar Puyi sebelum film The Last Emperior menjadi booming. Aku kagum dengan kemajuan teknologi dan budaya negara itu yang bahkan banyak menjadi teknologi dasar pertama di dunia, misalnya asal muasal bubuk mesiu, roket, dan kertas. Belakangan, saat kuliah, barulah kusadari pula betapa pentingnya negara itu bagi perdagangan dunia hingga kisah Jalur Sutera melegenda. Bahkan menurutku wajarlah negara itu disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW terkait dengan kewajiban mencari ilmu.
Terbang ke Beijing menjadi lebih fantastis bagiku sebab sebelumnya terjadi “arogansi” pejabat daerah Sulawesi Selatan yang hampir membuat kami gagal berangkat. Kami yang kumaksud adalah aku dan kawan sekampungku, Burhanuddin (Juara 1 OGN Ekonomi) dari Sengkang. Aku tidak tahu persis sebab musababnya, yang jelas saat SK para peserta Benchmarking ke Beijing sudah kami terima tiba-tiba keluar SK baru yang tidak memuat kedua nama kami. Akhirnya kami hanya bisa pasrah, berarti belum rezekinya. Akan tetapi rupanya Alloh Sub’hanahuu Wata’ala menakdirkan lain. Setelah mengalami pembatalan keberangkatan dan perseteruan tersebut bisa selesai maka terbitlah SK terbaru yang mencantumkan lagi kedua nama kami. Alhamdulillah. Salah satu impianku dapat terwujud.
Lalu apa kaitannya dengan selfie expert? Hahaha…. sabar ya….

Sejatinya, istilah selfie expert itu kupinjam dari salah satu tagline merek hape yang kebetulan kupakai. Kisah awalnya, saat mengikuti Pemilihan Guru Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2016, aku meminjam hape anakku. Hape itulah yang kupakai mendokumentasikan semua kegiatanku, tentu saja termasuk berselfie ria, baik sendiri maupun berdua, bertiga, berempat, dan beramai-ramai. He eh, kalau lebih dari satu orang bukan selfie ya? Hehehe… terserahlah apa istilahnya, wefie atau groufie kali ya?
Sepulang dari acara tersebut, aku mendapatkan hadiah istimewa dari pacar alias istri tercinta, bukan mantan pacar ya – pasalnya kami masih pacaran lho hingga kini sebab begitu kenal sehari esoknya langsung nikah. Eits! Jangan bilang “wow” ya? Itu kisahku yang fantastis juga. Ups, koq membahas itu.
Nah, hadiah itu berupa hape Op*o F1 yang tagline-nya selfie expert. Sejak itu aku makin menjadi-jadi berselfie, berwefie, maupun bergroufie, sekali lagi dengan menggunakan kamera belakang ya. Bukan hanya berfoto, merekam video pun aku melakukannya sendiri. Tentu saja hasilnya berbeda dan jelas terlihat. Kelebihan saat mengambil foto dan merekam video dengan kamera belakang adalah kita akan tampil apa adanya dan tidak terbalik. Tulisan yang terekam tetap seperti seharusnya. Misalnya, jika memotret tulisan “AMBULANCE” menggunakan kamera depan maka tulisannya menjadi terbalik seperti pada mobil ambulance. Sedangkan jika menggunakan kamera belakang maka tulisan itu tidak terbalik, tetap “AMBULANCE”. Hehehe… aku yakin Anda pasti paham maksudku!
Berangkat ke Beijing merupakan hadiah istimewa buatku dari pemerintah. Pasalnya, itu kuperoleh melalui perjuangan panjang hingga meraih penghargaan sebagai Pemenang I Guru SMA Berprestasi Tingkat Nasional. Saat mengikuti pembekalan sebelum ke Beijing, aku sempat berfoto dengan fotoku yang terpajang dalam bingkai besar di dinding ruangan. Ini juga kuanggap menjadi selfie istimewaku lho. Ndak apa ‘kan?
Ketika waktu keberangkatan tiba, tentu saja kami sempatkan berfoto bersama di bandara. Aku tentu ikutan, tapi juga sambil selfie dengan mengambil obyek rombongan, hahaha… Saat kami telah berada di dalam pesawat – ingat bukan di atas ya – kami berfoto lagi dan aku berselfie juga. Setelah terbang hampir selama tujuh jam, kami pun mendarat dan menghirup udara non-tropis. Kami turun melalui garbarata menuju tempat pengambilan bagasi. Selfie pertama yang kulakukan saat itu adalah mengambil latar belakang garbarata yang di atasnya terpajang neonbox warna kuning dengan angka unik, 212. Hahaha… aku penggemar Wiro Sableng, meskipun tanpa embel-embel kata “berat”.
Selanjutnya, petualang selfie expert semakin meraja lela. Selama delapan hari di Beijing, tiga hari kami habiskan untuk mengikuti pelatihan dan kunjungan ke SMA dan SMK berstandar internasional. Kami juga mengunjungi beragam obyek wisata, di antaranya kompleks olimpiade Beijing, Tembok Raksasa China, Istana Musim Semi, Lapangan Tiananmen, dan Kota Terlarang. Kami sempat pula melakukan sholat jumat di masjid tertua dan terluas di Beijing, Masjid Niujie yang terletak di jalan lembu di pusat kota. Masjid tersebut dibangun tahun 996 pada zaman Dinasti Liao, bandingkan dengan Masjid Agung Banten yang tertua di Indonesia dibangun tahun 1552 dan Masjid Jami’ Palopo dibangun tahun 1604.
Selama berada di Beijing, aku berhasil mengambil foto lebih dari 1.200 buah. Sangat sedikit ‘kan??? Dari jumlah itu, sekitar 640 foto merupakan hasil selfie, wefie maupun groufi. Gayaku berselfie dengan cepat dan menggunakan kamera belakang sempat membuat heran beberapa teman seperjalanan. Bahkan ada yang sampai minta diajari segala, dan berhasil juga.
Jumlah foto tersebut dilengkapi dengan belasan video yang didominasi video selfie juga. Namun dari sekian foto itu ada beberapa yang menurutku lebih istimewa, bukan hanya karena lokasinya. Foto selfieku peringkat ketiga terbaik adalah saat memegang batu bongkahan bekas renovasi lantai Kota Terlarang. Aku berselfie bersama pekerja yang memberikan batu itu dan menjadi oleh-oleh istimewa yang kubawa pulang ke rumah. Peringkat kedua adalah saat aku selfie di Tembok Raksasa China dengan latar belakang salah satu menaranya di puncak gunung. Dan….. yang terbaik adalah…. saat aku selfie di Lapangan Tainanmen dengan mengacungkan jengkal kiriku seakan mengukur ketinggian Monumen Pahlawan Rakyat di kejauhan. Foto itu kuambil hanya satu kali jepret dengan menggunakan kamera belakang. Ujung jari manisku selurus ujung atas monumen sementara ibu jariku selurus dengan landasan monumen.
Demikian kisahku demi menjadi selfie expert meskipun mungkin di luar ekspektasi Anda. Tak apalah jika memang begitu meskipun aku tetap berharap semoga ada secuil yang dapat menjadi inspirasi, biar tulisanku ini ada manfaatnya walau hanya secuil pula. Hmmm….. Terima kasih telah rela membaca dengan sabar! Wassalam (29042020-tiga tahun terlambat dari yang harusnya).




Mujahidin Agus
Guru Geografi SMAN 3 Palopo - Sulawesi Selatan



Saturday, August 1, 2020

BERBAGI IDE TIPS NAIK PANGKAT GURU

Naik pangkat guru merupakan penjenjangan karir yang dilakukan secara mandiri. Tidak sedikit guru yang belum memahami utuh cara naik pangkat. Semoga webinar ini dapat menjadi salah satu sumber pencerahan dalam berbagi tips naik pangkat. Silakan dikritik



Mohon dukungan SUBSCRIBE dan like di Youtube. Terima kasih banyak.

Bisa diskusi di grup Facebook "Nekat Naik Pangkat!"

Semoga bisa membantu dan menginspirasi selalu.