Monday, June 2, 2014

Barang bekas yang berharga

PEMANFAATAN BARANG BEKAS UNTUK PEMBUATAN ALAT PERAGA

Seorang guru berkewajiban melaksanakan pembelajaran kepada siswa. Sedapat mungkin ia harus melakukan yang terbaik dalam proses transfer of knowledge, sehingga siswa dapat mengerti substansi ilmu yang dipelajarinya. Proses tersebut dapat berlangsung dengan baik bilamana fasilitas yang dibutuhkan tersedia dengan cukup.
Guru membutuhkan media dan alat peraga pembelajaran. Guru memerlukan pula perlengkapan dan bahan-bahan praktik.
Namun sering kali guru mengalami kesulitan untuk memeroleh fasilitas yang dibutuhkan. Terlebih lagi bagi guru yang mengabdi di pelosok desa. Meskipun pada dasarnya hal itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk tidak menggunakan alat peraga. Sebab salah satu tugas guru adalah membuat dan menggunakan media atau alat peraga dalam proses pembelajaran. Media dan alat peraga akan membantu siswa untuk lebih mudah mengerti materi yang disajikan. Sekaligus dapat pula meringankan beban mengajar guru. Selain itu, penggunaan media dan alat peraga akan memberikan moment bagi siswa untuk mengembangkan potensi dirinya.
Pemberlakuan Undang-Undang Guru dan Dosen menuntut guru lebih kreatif dan profesional dalam melaksanakan tugasnya. Karena seorang guru kreatif akan memandang kondisi dalam keterbatasan fasilitas sebagai tantangan dan bukan hambatan. Guru kreatif akan berusaha membuat sendiri alat peraga yang dibutuhkan. Tidak terbatas pada sekadar mencontek hasil cipta orang lain. Bahkan mungkin ia mampu untuk menciptakan ataupun merancang dan membuat alat peraga yang belum pernah ada sebelumnya. Ia dapat menjadi seorang guru yang sekaligus sebagai innovator, seorang penemu teknologi, walaupun mungkin sangat sederhana.
Sejatinya, alat peraga memang tidak selamanya hanya dapat dibuat dari bahan berharga mahal. Alat peraga juga tidak selamanya dibuat dengan proses yang jelimet. Berbekal “sedikit” daya kreasi, mungkin alat peraga mahal yang ada di pasaran dapat disederhanakan bentuknya. Dengan daya kreasi, banyak barang yang telah menjadi sampah dapat dimanfaatkan untuk membuatnya. Sehingga akan tercipta alat peraga sederhana dengan biaya rendah, dan tidak mengurangi fungsi peragaannya.
Kondisi seperti di ataslah yang memotivasi penulis untuk membuat alat peraga sederhana yang dapat dikategorikan sebagai sebuah karya inovatif. Sebagai guru mata pelajaran Geografi, penulis seringkali mengalami kesulitan dalam mengajarkan sejumlah materi, khususnya tentang gerak air laut dan gejala-gejala yang terjadi di atmosfer seperti angin, hujan, tekanan udara, dan lain-lain. Alat peraga yang berkaitan dengan materi seperti itu masih sangat sulit ditemukan. Bahkan mungkin belum ada yang dijual di pasaran.
Bermula dari keinginan untuk membuktikan bahwa perbedaan kadar garam di laut dapat mengakibatkan terjadinya arus laut, baik arus horisontal maupun arus vertikal, penulis kemudian merancang dan membuat alat peraga dari dua buah botol plastik bekas air minum kemasan. Walhasil, ketika alat peraga tersebut diikutkan dalam Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran tahun 2002 di Jakarta, penulis meraih Juara III tingkat SMK. Tahun berikutnya, penulis kembali meraih Juara III pada lomba yang sama dengan manampilkan alat barometer sederhana yang terbuat dari gelas plastik bekas.
Sejumlah alat peraga lainnya (lebih dari lima belas jenis) telah penulis buat dengan memanfaatkan barang bekas. Pada tahun 2005, penulis berhasil menjadi Pemenang Pertama pada Lomba Kreativitas Guru Bidang MIPA tingkat SMP yang dilaksanakan oleh LIPI di Jakarta. Kala itu, penulis manampilkan alat untuk memperagakan proses terbentuknya angin dan alat termometer sederhana. Dan tahun 2006 penulis juga menjadi Pemenang Pertama Lomba Inovasi Pembelajaran yang dilaksanakan oleh Balitbang Diknas di Jakarta. Pada lomba tersebut penulis menampilkan alat peraga multifungsi. Alat ini dapat digunakan untuk memperagakan sifat elastisitas udara dan terjadinya tekanan udara akibat pengaruh suhu. Alat ini juga berfungsi sebagai termometer sederhana dan dapat memperagakan proses terjadinya hujan dan terbentuknya angin.
Alat peraga hasil kreasi penulis yang lainnya adalah alat peraga proses terbentuknya angin tornado (Pemenang SEA-ITSF 2009), alat bantu pembelajaran peta, alat peraga proses terbentuknya angin (jenis berbeda), alat pembuktian perbedaan tekanan udara, dll.
Dalam berbagai lomba yang dilaksanakan di tingkat daerah dan nasional, banyak guru yang memiliki daya kreativitas tinggi. Mereka mampu membuat alat peraga inovatif yang terutama memanfaatkan bahan dari barang bekas. Tentunya hal ini dapat menjadi pemicu semangat bagi guru-guru lainnya untuk menjadi inovator. Kenapa tidak? Selamat mencoba. (jidint).

No comments: