Wednesday, March 14, 2018

Tutorial Mengatasi ERROR Canon iP2770 - Jidint



Salah satu ERROR yang dapat terjadi pada printer Canon iP2770 adalah LAMPU RESUME BERKEDIP 8 (DELAPAN) KALI.
Error ini terjadi bila Absorber (penyerap tinta) sudah penuh.
Langkah-langkah mengatasinya:
1. Bukalah penutup printer.
2. Tarik atau geser rumah cartridge agar keluar ke bagian tengah relnya.
3. Gunakan kertas tisu yang lembut untuk menyerap tinta pada "pad absorber" (dua buah, black dan color).
4. Tutup kembali printer lalu matikan tombol "Power".
5. Tekan tombol "Resume" (warna kuning) selama tiga detik tapi jangan dilepaskan.
6. Tekan tombol "Power" hingga led-nya menyala dan jangan dilepaskan.
7. Lepaskan tombol "Resume" saja.
8. Tekan dan lepas tombol "Resume" sebanyak empat kali.
9. Tekan kembali tombol "Resume" tapi jangan dilepaskan, tunggu 2-3 detik.
10. Lepaskan kedua tombol secara bersamaan. Tunggu hingga printer tidak berkedip.
11. Cabut kabel printer.
12. Lakukan "Uninstall" terhadap driver Canon iP2770.
13. Colokkan kabel printer, driver-nya akan terinstal secara otomatis. Tunggu hingga printer "Ready".
14. Cobalah mencetak dokumen.
15. Bila lampu "Resume" kembali berkedip (tiga kali), tekan tombol itu selama 3-5 detik.
16. Cobalah mencetak kembali.
17. Semoga SUKSES mengatasi masalah sendiri!

Anda BERHASIL???
Mari berbagi, siapa tahu banyak yang membutuhkan.
TOLONG DI-SUBSCRIBE di Channel JIDINT ya.... Terima kasih banyak.

Maaf, saya bukan ahli, makanya bahasa "komputer"-ku mungkin hancur.... hihihihihi...

Thursday, March 8, 2018

Wonderful INDONESIA: Ban "teraneh" di dunia dan gua tengkorak

MENGATASI BAN MOTOR BOCOR SAAT BERTUALANG

Bertualang bukan CUMA butuh nyali. Petualang sejati punya ide taktis saat kritis.
Bagaimana mengatasi ban motor bocor saat bertualang ke daerah terpencil?
Ide unik ini mungkin dapat menginspirasi. Semoga bermanfaat. Silakan tonton di youtube. Tolong di-subscribe dan di-like yaa..... Terima kasih banyak
Tonton di Youtube






INDAHNYA KEBERSAMAAN

Wednesday, February 28, 2018

SCIENCE EDUCATION AWARD (SEA) - ITSF - Penghargaan Bergengsi untuk Guru Sains

INDONESIA TORAY SCIENCE FOUNDATION (ITSF) secara reguler menyelenggarakan SCIENCE EDUCATION AWARD (SEA) untuk guru sains seluruh Indonesia.
Walaupun Anda sering mengikuti lomba untuk guru, Anda tetap akan menemukan keistimewaan dan keunikan PENGHARGAAN yang satu ini. Silakan baca info berikut atau KUNJUNGI web resmi ITSF.

PEMENANG ITSF 2009

SCIENCE EDUCATION AWARD (SEA) 2017

INFORMASI TENTANG NOMINASI BAGI GURU UNTUK MENDAPATKAN PENGHARGAAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN SAINS 1. Latar Belakang Mata pelajaran sains sering menjadi pelajaran yang menakutkan (beban yang berat) bagi siswa-siswa di sekolah. Sains sering dianggap sebagai pelajaran sulit dengan sederet rumus yang mesti dihafal. Pengajaran sains secara kreatif yang membangkitkan minat siswa serta memudahkan pemahaman siswa terhadap sains sangat diperlukan. Sayangnya masih sangat sedikit guru yang melakukan hal tersebut. Karena itu ITSF memandang perlu untuk memberikan rangsangan agar lebih banyak lagi guru yang melakukan hal tersebut. Hal itu diwujudkan dengan memberikan Penghargaan Pengajaran Sains (Science Education Award). 2. Bentuk Penghargaan Setiap tahun penghargaan diberikan dalam bentuk piagam penghargaan dan uang tunai sebesar Rp 25,000,000,- (Dua puluh lima juta rupiah) kepada 10 (sepuluh) orang penerima. Penghargaan diberikan kepada penerima yang telah melakukan inovasi pembelajaran sains, bukan untuk kegiatan pengajaran sains yang akan dilakukan. 3. Kriteria Calon Penerima (a) Calon adalah warga negara Indonesia (b) Calon adalah guru aktif pada salah satu jenjang pendidikan di bawah ini: · Sekolah Menengah Pertama / Madrasah Tsanawiyah · Sekolah Menengah Atas / Sekolah Menengah Kejuruan / Madrasah Aliyah baik negeri maupun swasta seluruh wilayah geografis Republik Indonesia. (c) Calon adalah guru yang aktif dalam pendidikan sains pada mata pelajaran · Fisika · Kimia · Biologi (d) Calon telah melakukan inovasi pada pengajaran sains di bidang, dengan metode yang kreatif dan menarik seperti penggunaan alat peraga, model, simulasi, eksperimen, dan lain-lain. 4. Prosedur (a) Calon penerima dapat dinominasikan oleh · Kepala Sekolah, · Guru sejawat · Guru yang pernah menerima Science Education Award pada tahun-tahun sebelumnya. (b) Menyiapkan berkas nominasi sebagai berikut : · Formulir nominasi yang diketik atau ditulis dengan huruf cetak dengan jelas dalam Bahasa Indonesia dan dibuat 5 (lima) rangkap. · Softcopy formulir nominasi yang telah terisi lengkap. · Surat pernyataan bebas plagiasi yang ditandatangani di atas meterai. (c) Berkas nominasi dikirimkan ke kantor ITSF dan e-mail: itsf.torayindonesia@gmail.com paling lambat 31 Agustus 2017. 5. Mekanisme Seleksi a) Komite Seleksi menilai dari semua formulir yang masuk. b) Kriteria penilaian : a. Inovasi pembelajaran b. Originalitas inovasi c. Mudah diterapkan d. Dapat direplikasi (reproducible) e. Penggunaan bahan lokal f. Penggunaan media bantu yang berlisensi legal. c) Berdasarkan penilaian pada formulir, komite seleksi menetapkan sejumlah guru yang terpilih untuk melakukan sesi wawancara di kantor ITSF, yang diperkirakan akan diselenggarakan pada bulan November 2017. Catatan: · Keputusan komite seleksi bersifat mutlak dan final. · Komite seleksi tidak melayani komunikasi dalam bentuk apapun mengenai keputusan tersebut. 6. Bahan-bahan untuk Wawancara (a) Presentasi tentang inovasi pembelajaran yang telah dilakukan (durasi : 15 menit) (b) Alat Peraga Harap membawa alat peraga yang Anda gunakan. Jika tidak memungkinkan untuk dibawa, dapat ditunjukkan dalam bentuk multimedia (video atau potret). (c) Dokumentasi Proses Pembelajaran Sertakan video atau potret yang menggambarkan proses pembelajaran yang anda lakukan untuk mewujudkan inovasi anda. 7. Komite Seleksi Anggota Komite Seleksi: · Herwindo Haribowo, Ph. D (Ketua) · Dr. Agus Haryono (Anggota) · Paulus Cahyono Tjiang, Ph. D (Anggota) 8. Penyerahan Penghargaan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Acara penyerahan penghargaan dijadwalkan pada bulan Februari 2018. 9. Publikasi Pemenang Penghargaan Karya inovasi yang memperoleh penghargaan akan dipublikasikan agar dapat digunakan dalam pembelajaran oleh guru-guru lainnya dan menjadi milik umum (public domain). 10. Hadiah Penghargaan Penghargaan tersebut tidak terkena pajak di tangan penerima. 11. Komunikasi Informasi tentang Penghargaan Pendidikan Ilmu Pengetahuan dapat diminta ke alamat berikut: INDONESIA TORAY SCIENCE FOUNDATION Gedung Summitmas II – Lantai 3 Jl. Jenderal Sudirman Kav. 61-62 Jakarta Selatan 12190 Tel. (021) 522-0785, 252-6841 Fax. (021) 520-2041 E-mail: itsf@ina.toray.co.id Homepage: http://www.itsf.or.id/

Silakan kunjungi WEB RESMI ITSF

SELAMAT BERJUANG DAN BERKARYA, SEMOGA SUKSES UNTUK KITA SEMUA







Monday, February 26, 2018

Contoh VIDEO PBM UNTUK SELEKSI GURU BERPRESTASI TINGKAT NASIONAL

Mohon ditonton di YOUTUBE


JANGAN LUPA DI-SUBSCRIBE YA....
TERIMA KASIH BANYAK

Catatan:
1. Rekaman Video dibuat secara amatiran oleh saya dan siswa dan sebenarnya tidak disiapkan untuk lomba. Video saya edit menggunakan aplikasi Camtasia. 
2. Alhamdulillah, karya ini mengantarkan saya menjadi Pemenang I Pemilihan Guru SMA Berprestasi Tingkat Nasional, Jakarta/12-18 Agustus 2016. Alhamdulillah.




Saturday, February 24, 2018

CONTOH NASKAH PEMENANG BEST PRACTICE-JIDINT

Maaf, silakan KLIK LINK berikut ini untuk download.....

INOVASI ALAT PRAKTIKUM GEOGRAFI & FISIKA-BEST PRACTICE 2011 - JIDINT #GTP2020

Semoga bermanfaat
 Salam dari Palopo

Mari membuat alat peraga sendiri

PEMBUATAN RELIEF RUPA BUMI
Oleh Mujahidin Agus

Bentuk relief dapat berbentuk apa saja misalnya relief pegunungan, bentuk dasar laut, dan DAS. Namun dalam naskah ini akan dibuat relief muka bumi di dataran rendah dan dataran tinggi. Fungsi utama karya ini adalah untuk pembelajaran geografi, sejarah, dan ekonomi. Selain itu, dapat pula dijadikan diaroma, peta timbul, dan peta simulasi pertempuran. Teknik pembuatan karya ini juga dapat dipakai untuk membuat manekin atau model. Selain proses pembuatan yang mudah serta biaya yang murah, keunggulan karya ini adalah anti pecah meskipun dijatuhkan dengan ketinggian dua meter. Di samping itu, apabila telah dicat dan atau divernis dengan baik, maka karya ini pun tahan terhadap air dan dapat mengapung di air.
Adapun cara pembuatannya adalah:
a.    Penyiapan alat dan bahan, yaitu:
        1)    Mangkuk plastik dan sendok atau alat pengaduk.
        2)    Pisau cutter dan kertas gosok.
        3)    Gabus bekas
        4)    Tepung sagu, serbuk gergaji, dan bubur kertas.
        5)    Cat pewarna sesuai kebutuhan dan tepung tapioka, dan vernis.
b.  Terlebih dahulu, buatlah rancangan karya dalam bentuk sketsa. Bila perlu, buat sketsa tampak samping, tampak depan, dan tampak belakang.
c.    Siapkan gabus sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan. Buatlah bentuk dasar relief pada gabus tersebut dengan menggunakan pisau. Setiap sketsa tampak samping, depan, dan belakang harus diserasikan satu sama lainnya pada bentuk dasar tersebut. Jangan lupa untuk memberi cekungan pada danau, laut, sungai, dan lembah.
d. Masaklah tepung sagu dengan air secukupnya. Hasilkanlah lem sagu yang kental agar daya rekatnya kuat.
e. Campurlah bahan bubur kertas dan serbuk gergaji hingga rata, perbandingannya 1:1. Masukkan lem sagu ke dalam campuran tersebut dengan jumlah yang relatif sama. Aduklah hingga menghasilkan adonan yang kental dan liat. Gunakan kedua tangan untuk membuat adonan lebih rata dengan cara dibolak-balik dan diremas-remas.
f. Lapiskanlah adonan pada seluruh permukaan rancangan dengan ketebalan kira-kira satu sentimeter. Upayakan bentuk dasar relif seperti sungai dan lembah telah terlihat dengan jelas .
g. Keringkan karya tersebut hingga kering betul.  Berilah warna dasar putih dengan menggunakan cat tembok atau cat besi yang dicampur dengan tepung tapioka, lalu keringkan lagi.
h. Selanjutnya, warnailah dengan warna yang menarik sesuai dengan kondisi muka Bumi.
i.  Lengkapilah karya tersebut dengan detail yang teliti,misalnya jalan raya, perumahan, sungai, dan lain-lain.
j.   Berilah vernis atau cat semprot finishing clear ke seluruh permukaan karya.









Siswa Kelas X SMA Negeri 01 Unggulan Kamanre, Luwu, Sulawesi Selatan (2009)
*ANTIKA*



Monday, February 19, 2018

Cara Pembuatan Eksperimen Letusan Gunung Berapi

INOVASI ALAT PERCOBAAN LETUSAN GUNUNG BERAPI YANG LEBIH ALAMI
(MAGMA BUATAN KELUAR AKIBAT DESAKAN GAS DARI DAPUR MAGMA,
BAHAN TIDAK DITUANG DARI KAWAH/LUBANG KEPUNDAN)

TAHAP-TAHAP PEMBUATAN MODEL LETUSAN GUNUNG BERAPI
1.     Siapkan bahan dan alat pembuatan berupa:
a.       Kertas koran bekas (kira-kira 5 terbitan) untuk bentuk dasar gunung berapi.
b.      Lem sagu yang kental satu mangkuk sedang (dapat digantikan dengan lem kanji/tapioka).
c.       Tripleks atau karton dos tebal untuk alas berukuran 40 cm x 40 cm.
d.      Dua buah botol plastik bekas minuman berukuran sedang lengkap dengan penutupnya.
e.       Selang bening diameter 1 cm sepanjang 110 cm.
f.        Lem serba guna untuk plastik.
g.       Pisau cutter.
h.       Satu buah paku ukuran 10 cm.
i.         Lilin dan korek.
j.         Tang.
k.       Baskom kecil untuk mencampur bahan/adonan.
l.         Abu gosok dua kantong.
m.   Bubur kertas bekas (misalnya terbuat dari koran bekas sebanyak 6-7 terbitan). Koran bekas disobek kecil-kecil lalu direndam 2-3 jam. Selanjutnya koran itu diblender sedikit demi sedikit dengan air yang banyak agar blender tidak bekerja berat. Lalu hasil blender itu diperas dan disimpan di wadah untuk dipakai.
2.    Setelah semua alat dan bahan telah siap, potonglah selang menjadi dua bagian, masing-masing panjang 70 cm dan 40 cm.
3.    Lubangilah tripleks atau karton alas berdiameter 1 cm (sebesar selang plastik), jangan longgar.
4.    Masukkan selang yang panjang (70 cm) ke lubang pada alas tersebut dari arah bawah, kira-kira sepanjang 23 cm. Beri lem plastik pada bagian lubang tripleks agar selang tidak goyang.
5.    Selanjutnya, bukalah koran selembar demi selembar lalu remaslah hingga sekecil mungkin. Kemudian bukalah kembali remasan tersebut secara perlahan.
6.    Berilah lem sagu pada seluruh permukaan tripleks alas terutama di sekitar lubang dan selang. Lalu lekatkan koran mengelilingi selang dengan membentuk model dasar gunung berapi. Lekatkanlah koran bertumpuk-tumpuk dengan diberi lem satu sama lain hingga model gunung berapi lebih bagus, yaitu puncaknya meruncing. Puncak gunung tersebut lebih tinggi 1 cm daripada ujung selang (hati-hati jangan sampai ujung selang tertutup oleh apapun).
7.    Sebaiknya keringkan model gunung berapi tersebut sebelum dilanjutkan proses berikutnya.
8.    Bila model dasar gunung berapi telah terbentuk hingga ke lembahnya yang melebar, siapkanlah bubur kertas di baskom. Masukkan pula abu gosok dan lem sagu dengan perbandingan sama. Campurlah dengan rata ketiga bahan tersebut, jika terlalu kental dapat ditambah air secukupnya tapi jangan sampai terlalu lembek.
9.    Tempelkan adonan bubur kertas tersebut merata ke seluruh permukaan model gunung berapi yang telah dibuat. Bentuklah puncak gunung berapi yang lengkap dengan kawah/kepundan yang agak lebar. Hati-hati jangan sampai ujung selang tertutup. Bentuklah pula lekukan-lekukan lembah dan lereng yang alami di sekeliling badan gunung berapi hingga ke kaki gunung sehingga tripleks alasnya tertutup seluruhnya.
10.      Keringkan model gunung berapi tersebut hingga keras dan kuat betul (kira-kira 2-3 hari).
11.       Siapkan kedua botol plastik bekas. Lubangilah kedua tutupnya menggunakan paku panas. Lubang itu harus tidak lebih besar daripada diameter selang (1 cm), jangan longgar.
12.       Masukkan ujung selang panjang ke lubang pada penutup botol (Penutup A) dari arah luar hingga 1 cm saja. Berilah lem yang kuat di sekeliling lubang tersebut baik dari arah luar maupun dari dalam. Biarkan hingga kering lalu ulangilah memberikan lagi lem. Pastikan bagian ini tidak bocor atau mudah lepas. Lakukan hal yang sama pada penutup botol lainnya (Penutup B) dengan menggunakan selang pendek (40 cm).
13.      Lubangilah badan salah satu botol (Botol A) tepat di bahu atasnya kira-kira 5 cm dari penutupnya. Lubang tersebut berukuran 1 cm sehingga selang tidak longgar saat dimasukkan. Sementara itu, botol lainnya (Botol B) tidak diapa-apakan.
14.      Masukkan ujung selang yang pendek (selang dari Penutup B) ke lubang pada Botol A hingga ujung selang itu kira-kira berjarak 1 cm dari sisi botol di seberangnya. Berilah lem pada sekeliling lubang tersebut agar selang melekat kuat dan tidak bocor apalagi terlepas. Keringkan lebih dahulu bagian itu sebelum diberi lem lagi.
15.      Alat percobaan letusan gunung berapi telah siap.

FOTO-FOTO PEMBUATAN MODEL LETUSAN GUNUNG BERAPI OLEH SISWA
















 TAHAP-TAHAP PERCOBAAN LETUSAN GUNUNG BERAPI
1.     Siapkan bahan dan alat pembuatan berupa:
a.     Sabun diterjen bubuk 250 g
b.    Cuka 1 botol (350 ml)
c.     Bedak talk 150 g
d.    Bubuk pewarna kue (merah) dua bungkus
e.    Mangkuk dan sendok makan
f.      Corong (dapat dibuat dari kertas)
2.    Dudukkan alat percobaan gunung berapi di atas meja. Pastikan selang di bawahnya tidak terlipat.
3.    Setelah semua alat dan bahan telah siap, campurkan sabun, bedak, dan pewarna dalam mangkuk. Aduklah hingga merata betul. Dapat pula pencampuran ini di lakukan menggunakan wadah kantong plastik.
4.    Masukkan campuran tersebut ke dalam Botol A pada alat percobaan gunung berapi hingga kira-kira setinggi 7 cm dari mulut botol. Lalu tutuplah serapat mungkin botol tersebut dengan menggunakan Penutup A (putarlah botolnya, jangan penutupnya).
5.    Masukkan air cuka ke dalam Botol B. Posisikan Botol B lebih rendah daripada Botol A, lalu tutuplah serapat mungkin botol tersebut menggunakan Penutup B (putarlah botolnya, jangan penutupnya). Persiapan percobaan telah siap.
6.    Sebelum melakukan percobaan, periksalah semua jalur selang agar tidak ada yang terjepit. Sebaiknya, usahakan selang panjang dari Botol A tegak lurus dari arah bawah model gunung. Hal ini dapat dilakukan dengan meletakkan model gunung di atas dua buah meja yang berjarak 5 cm satu sama lain. Selang panjang terletak antara kedua meja tersebut.
7.    Selanjutnya, angkatlah Botol B lebih tinggi daripada Botol A dengan posisi penutupnya terletak di bawah. Air cuka akan mengalir masuk ke Botol A. Jika bisa, tekanlah Botol B agar air cuka tersebut lebih cepat mengalir. Saat air cuka tercampur ke bahan di dalam Botol A, maka akan terbentuk reaksi yang menghasilkan busa dan gas sehingga akan mengalir ke atas melalui selang di penutup Botol A. Bila bahan tereaksi tersebut mengalir ke selang pada Botol B maka lipatlah selang tersebut dan jepitlah dengan jari.
8.    Magma tiruan akan meleleh (effusive) keluar dari ujung selang yang terdapat di kawah model gunung berapi. Untuk menghasilkan sensasi letusan yang disertai semburan magma yang meledak-ledak (explosive), jepitlah selang panjang untuk beberapa detik (5-7 detik) lalu lepaskan dengan cepat.
9.    Jika bahan tereaksi di Botol A masih tersisa dan lelehan atau letusan magma di kawah sudah melemah maka tuangkanlah lagi air cuka dari Botol B.






Friday, October 6, 2017

MENUMBUHKAN SCIENTIFIC THINKING SEJAK DINI


Pendidikan, menurut Ki Hajar Dewantara harus dirumuskan sebagai “daja-upaja untuk memadjukan bertumbuhnja budi pekerti (dalam Rohman, 2017). Pendidikan hendaknya membuat manusia memiliki budi pekerti luhur dan mengubah keadaan dari tidak tahu menjadi tahu serta dari tidak berdaya menjadi berdaya. Perubahan tersebut hanya dapat berlangsung melalui proses belajar. Proses belajar tidak hanya terjadi di lembaga formal dan untuk usia sekolah semata. Belajar sepatutnya berlangsung di mana saja dan oleh siapa pun sebab sejatinya manusia adalah makhluk pembelajar. Dari unsur waktu, belajar dimulai dari buaian hingga akhir hayat.
Akan tetapi, kemampuan belajar seseorang berubah seiring pertambahan usia sehingga kemajuan tingkat berpikir kanak-kanak berbeda dengan remaja dan dewasa. Menurut Colarusso (2011), usia Sekolah Dasar (SD) adalah masa keemasan anak (the Golden Age of Childhood) sebab mereka memiliki waktu yang panjang, kehidupan yang wajar (tidak banyak beban, pen.), pertumbuhan fisik, dan lompatan besar dalam perkembangan secara intelektual dan sosial.
Pemenuhan faktor belajar yang baik seperti kurikulum, guru, proses, dan sarana belajar seharusnya menjadi perhatian utama sektor pendidikan. Faktor-faktor tersebut tidak boleh terpisahkan dalam upaya pencapaian tujuan belajar. Proses pembelajaran menjadi salah satu faktor yang penting sebab menyangkut aktivitas anak dalam menimba ilmu dan keterampilan. Karena itu, sekolah wajib menyediakan proses belajar yang baik, yaitu setidaknya menarik dan efektif membelajarkan anak. Melalui proses belajar seorang anak dibentuk cara berpikir, bersikap, dan berperilaku serta ditingkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Pembentukan cara berpikir sejak dini akan mewarnai seluruh proses belajar yang akan dijalani seseorang. Ketika dibiasakan untuk berpikir ilmiah dan bersikap kritis, anak akan memiliki kecakapan bertanya, analisis, dan pemecahan masalah. Hasil belajar itulah yang akan menjadi landasan bagi peningkatan kompetensi anak untuk menjawab tantangan hidup. Dengan demikian, tahap ini menjadi sangat krusial bagi pembentukan masa depan anak.

Potensi para pemikir ilmiah
Scientific thinking (berpikir ilmiah) adalah keterampilan dalam melibatkan diri pada proses inkuiri, eksperimen, analisis bukti, dan penarikan kesimpulan yang dilaksanakan sebagai upaya memahami suatu objek kajian (Zimmerman, 2007). Senada dengan itu, berpikir ilmiah menurut Larm dan Jaros (2017), meliputi kecakapan dalam mengamati, bertanya, memperkirakan, menguji ide-ide, pendokumentasian data, dan penyampaian pemikiran. Demikian pula Kundu (2015) menyatakan bahwa keterampilan berpikir ilmiah terdiri atas tahap mengamati, membandingkan, mengorganisasi, menduga, bereksperimen, mengevaluasi, dan menerapkan. Sementara Kuhn (2010) menyatakan tahapan berpikir ilmiah adalah inkuiri, analisis, kesimpulan, dan argumentasi.
Terdapat beberapa kesamaan unsur berpikir ilmiah pada beberapa pendapat tersebut. Proses inkuiri, eksperimen, analisis, dan kesimpulan merupakan proses belajar yang memungkinkan anak dapat memahami substansi materi ajar melalui kegiatan mandiri. Saat melakukan pengamatan, analisis, dan penyimpulan, anak sekaligus berlatih agar cakap dalam berpikir kritis dan bertindak ilmiah. Pada kegiatan eksperimen, anak dapat menyaksikan langsung suatu fenomena yang boleh jadi sulit diamati secara langsung di alam. Sebagai contoh, eksperimen letusan gunung berapi, pembentukan tornado atau proses kejadian geyser akan sangat menarik bahkan mungkin menakjubkan bagi anak. Kegiatan belajar yang aktif dan mengasyikkan memungkinkan anak dapat mengingat apa yang dipelajarinya dalam waktu lama.
Keterampilan berpikir ilmiah dapat menjadi landasan berpikir untuk diterapkan pada semua aspek kehidupan, termasuk sosial kemasyarakatan (Zimmerman, 2007). Keterampilan berpikir ilmiah dapat melahirkan beragam budi pekerti dan karakter luhur. Para pemikir ilmiah (scientific thinker) mampu berpikir jernih, cermat, dan komprehensif. Mereka dapat memikirkan hal-hal yang tampaknya sepele padahal mungkin sangat penting dalam pemecahan masalah. Para pemikir ilmiah mampu “melihat” apa yang tidak terlihat dan tidak penting bagi orang lain.
Para pemikir ilmiah fokus pada apa yang menjadi tujuan aktivitasnya. Segala permasalahan serta kendala akan diantisipasinya lebih dini. Pikiran mereka penuh dengan beragam pertanyaan lalu mencari jawaban dan menyimpulkannya dengan berbagai sudut pandang, sebelum menentukan langkah terbaik yang akan diterapkan. Mereka mampu menemukenali faktor-faktor kekuatan dan kelemahan serta peluang dan tantangan dari semua alternatif tindakan yang ada. Mereka selalu bersungguh-sungguh untuk memeroleh data akurat, tepat, dan sesuai kebutuhan. Pemikir ilmiah juga terobsesi untuk berpikir logis dan sedetail mungkin, bersikap bijak, adil, dan objektif serta memiliki komitmen dan integritas tinggi. Selanjutnya, menurut Paul dan Elder (2012) mereka mampu menerapkan beragam keterampilan tersebut baik dalam kehidupan pribadi maupun aktivitas profesionalnya. Mereka akan mengungkapkan pikiran sesuai kenyataan (jujur) dan serasi antara perkataan dan perbuatan.
Potensi dan keterampilan para pemikir ilmiah tentu saja sangat dibutuhkan dalam pembangunan nasional. Apalagi pemerintah menjadikan revolusi karakter bangsa melalui pendidikan sebagai salah satu nawacita. Negara sangat membutuhkan para pemikir ilmiah untuk membentuk karakter bangsa yang menumbuhkembangkan nilai-nilai patriotis dan cinta tanah air serta semangat bela negara dan berbudi pekerti yang luhur. Bila para pemikir ilmiah dengan integritas tinggi menjadi penggerak utama pemerintahan dan pembangunan maka Indonesia dapat menjadi negara maju dan terkemuka.  

Perlu reformasi pembelajaran di SD
Pada banyak sekolah dasar di Indonesia, proses pembelajaran masih jauh dari harapan, bahkan tidak sedikit yang sangat memprihatinkan. Masih banyak sekolah yang kondisi bangunannya pun sudah tidak layak, apatah lagi sarana belajarnya. Lantai masih berupa tanah, dinding papan sudah tidak utuh, atap bocor di sana sini, dan kekurangan alat belajar, buku, dan guru. Tentu saja keadaan itu tidak kondusif untuk belajar.
Pada banyak sekolah lainnya, dengan kondisi gedung dan fasilitas yang jauh lebih baik, permasalahan pembelajaran pun masih ditemukan. Secara umum, kondisi dan aktivitas belajar jauh panggang dari api. Betapa tidak, masih ditemukan proses pembelajaran yang kurang optimal, antara lain guru masih menjadi pemeran utama pembelajaran (teacher centered) dan anak didik hanya datang, duduk, diam, dan dengar apa yang disampaikan oleh guru. Bahkan mereka tidak memiliki keberanian untuk bertanya, apalagi berdiskusi. Selain itu, aktivitas anak lebih banyak belajar secara teoritis daripada aplikasi atau praktik.
Kondisi tersebut membuat anak menjadi terbiasa menurut dan mengiakan apa yang disampaikan oleh guru. Mereka tidak memiliki keberanian untuk meminta penjelasan lebih rinci, memprotes atau sekadar mengkonfirmasi ketidakpuasan. Sementara itu, tidak banyak guru yang memberikan ruang untuk menumbuhkan daya pikir ilmiah anak didiknya. Mereka lebih senang ketika anak duduk diam dan tidak membuat kegaduhan. Mereka lebih senang anak didiknya selalu belajar di kelas daripada sesekali beraktivitas dan bermain sambil belajar dari lingkungan.
Anak tidak memiliki peluang untuk menemukenali “keunikan” lingkungannya. Mereka tidak dilatih untuk mengamati dan mengidentifikasi substansi materi ajar yang melimpah di sekitarnya. Padahal guru dapat menerapkan pembelajaran yang memungkinkan anak belajar sambil bermain. Mereka dapat belajar tanpa harus kehilangan masa indah kanak-kanaknya. Misalnya, anak diajak ke lapangan atau kebun untuk menangkap serangga lalu mempelajari karakteristiknya. Dapat pula guru mengajak mereka menggali tanah dan mengamati jasad renik atau belajar tentang erosi dan kesuburan tanah di kebun sekolah. Atau mereka diajak mengamati kegiatan jual-beli di pasar tradisional atau kondisi sosial di sekitar rumah. Malah anak dapat belajar sambil bekerja, misalnya bercocok tanam secara hidroponik, membuat karya kerajinan dan mainan dari barang bekas atau mendaur ulang sampah kertas.
Pada aktivitas lain, anak dapat belajar melakukan eksperimen sains menggunakan bahan dan peralatan sederhana. Sebagai contoh, eksperimen magnet menggunakan baterai atau membuat baling-baling yang menggerakkan dinamo untuk menghasilkan listrik. Beragam contoh tersebut adalah bentuk sederhana proses belajar sambil bermain atau bekerja yang sejalan metode inkuiri. Anak dapat menemukan sendiri substansi materi ajar melalui pengamatan, praktikum, analisis, dan penarikan kesimpulan. Langkah-langkah tersebut menjadi dasar keterampilan berpikir ilmiah.
Aktivitas yang memberikan keasyikan bagi anak dalam belajar tentu menyediakan momen penumbuhan rasa ingin tahu dan semangat belajar yang tinggi. Mereka dilatih berpikir kritis dan memecahkan masalah serta disiplin dan bekerja sama. Bahkan sejatinya, mereka telah dilatih untuk berpikir secara mendalam dan menyeluruh namun tidak merasa terbebani seperti ketika belajar teori semata.
Pada tahapan lebih lanjut, anak dapat dilatih mengungkapkan ide, pikiran, dan pendapatnya melalui diskusi dan pembuatan laporan kegiatan. Keterampilan berdiskusi akan menumbuhkan rasa percaya diri, teguh dalam pendirian, dan saling menghargai.
Oleh sebab pada kenyataannya proses pembelajaran di SD secara umum belum sejalan dengan penumbuhan scientific thinking pada anak usia dini, maka  sepatutnyalah bila reformasi pembelajaran di SD menjadi keharusan. Dibutuhkan langkah nyata untuk melakukan perubahan besar dan harus mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan pemerhati pendidikan.
Namun, masih ada faktor utama lain yang sangat menentukan keberhasilan reformasi pembelajaran, yaitu guru. Guru menjadi ujung tombak penumbuhan keterampilan berpikir ilmiah sebab merekalah yang mengendalikan proses belajar di kelas. Dengan demikian, sebelum reformasi pembelajaran dilakukan maka guru terlebih dahulu harus disiapkan. Guru hendaknya telah memiliki keterampilan berpikir ilmiah agar dapat menjadi teladan. Keteladanan menjadi penting sebab anak usia SD masih sangat labil. Jika lingkungannya menciptakan teladan yang baik maka anak akan terbentuk menjadi sosok yang baik pula.
  
Berbagai kendala
Penumbuhan keterampilan berpikir ilmiah sejak dini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak yang harus disiapkan dan membutuhkan kesungguhan. Walaupun demikian, langkah awal yang perlu ditempuh adalah menemukenali kendala dan cara mengatasinya. Kendala yang mungkin ditemui dalam menumbuhkan keterampilan berpikir ilmiah di SD, pertama kekurangan sarana belajar. Sarana belajar sangat penting dilengkapi untuk mendukung upaya penumbuhan keterampilan berpikir ilmiah. Anak didik dapat melakukan banyak aktivitas belajar bilamana sarana tersedia. Penggunaan alat belajar memungkinkan anak menguji dan membuktikan kebenaran suatu teori. Bahkan anak dapat dilatih kreativitas dan nalarnya melalui beragam percobaan ilmiah. Alat yang dimaksud bukan hanya yang canggih tetapi dapat pula berupa perlengkapan sederhana seperti ember, mangkuk, sekop, cangkul, gunting, sabit, tajak, dan juga barang bekas seperti botol, stoples, dan gelas plastik. Sementara bahan dapat berupa kertas, tanah, air, garam, cuka, susu, pewarna, dan sabun.
Kekurangan sarana belajar dapat ditangani dengan beragam cara. Misalnya, anak membawa sendiri alat dan bahan yang dibutuhkan dari rumah. Atau sekolah melengkapi kebutuhan belajar dengan membeli secara bertahap. Mungkin pula dilakukan pemberdayaan orang tua dan masyarakat melalui komite sekolah untuk pengadaan alat terutama yang mahal atau sulit diadakan.
Kedua, kelemahan penguasaan metode mengajar guru. Metode mengajar yang diterapkan guru sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Begitu pula dengan pengaruhnya terhadap pembentukan keterampilan anak, termasuk dalam berpikir ilmiah. Oleh sebab itu, maka guru hendaknya dapat menerapkan metode mengajar yang bersesuaian dengan penumbuhan keterampilan berpikir ilmiah, yaitu metode inkuiri. Metode ini tidak hanya diterapkan dalam pembelajaran sains, namun juga dapat diterapkan untuk pembelajaran sosial dan humaniora.
Akan tetapi masih banyak guru belum cakap dalam melaksanakan pembelajaran yang menumbuhkan keterampilan berpikir ilmiah anak. Mereka cenderung menjelaskan materi ajar dengan ceramah sepanjang waktu pembelajaran. Selain itu, variasi metode pembelajaran jarang dilakukan sehingga sulit menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Kekurangan penguasaan metode mengajar guru dapat diatasi dengan menggiatkan mereka dalam berbagai pelatihan yang sesuai. Di samping itu, guru juga dapat belajar dari guru lain yang telah berhasil, misalnya melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan kegiatan kolegial lain. Dapat pula dilaksanakan program pertukaran guru dengan mendesiminasikan praktik terbaik. Berbagai sumber belajar juga banyak tersedia di internet sehingga guru dapat meningkatkan kompetensi mengajarnya melalui usaha mandiri.
Terakhir, kurangnya daya kreasi dan inovasi guru. Pada dasarnya, guru yang memiliki cukup daya kreasi dan inovasi tidak banyak mengalah pada keadaan. Kekurangan alat belajar dapat dijadikannya sebagai tantangan untuk berkarya, bukannya berpangku tangan. Daya kreasi dan inovasi mendorong guru untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara kreatif. Ketika kekurangan alat peraga dan alat praktikum, guru kreatif dapat mengatasinya dengan membuat alat rancangan sendiri.
Bilamana guru belum memiliki daya kreasi dan inovasi yang cukup maka masih ada cara lain yang dapat ditempuh. Mereka dapat membuat alat belajar dengan meniru karya guru lain, atau bila mungkin dapat memodifikasinya. Selain itu, guru juga dapat menerapkan beragam praktik sains sederhana untuk anak yang sangat banyak tersedia di internet.

Sejatinya, penumbuhan keterampilan berfikir ilmiah tidak hanya dapat dilakukan di sekolah dan oleh guru. Seharusnya keterampilan ini dimulai dan ditumbuhkan sejak di rumah, saat usia anak masih balita. Menurut Larm dan Jaros (2017), orang tua dapat menyediakan beragam peluang bagi anak untuk melakukan percobaan, penjelajahan, dan mengenali berbagai praktik dan permainan sains untuk membangun pondasi yang kuat bagi penerapan aktivitas sains di masa mendatang. Keterampilan berpikir ilmiah sangat penting untuk ditumbuhkan sebelum anak menjadi dewasa. Kemampuan tersebut akan mewarnai sikap, tindakan, dan perilakunya kelak.
Menciptakan pondasi yang kokoh melalui keterampilan berpikir ilmiah setidaknya secara formal harus dimulai sejak SD. Pendekatan pembelajaran yang mendukung upaya tersebut adalah scientific approach (pendekatan ilmiah). Dalam upaya menumbuhkan keterampilan berpikir ilmiah maka metode ataupun teknik pembelajaran yang bersesuaian adalah metode inkuiri. Metode ini memberikan kemerdekaan belajar secara substantif pada anak namun tetap dalam kendali dan bimbingan guru (dan orang tua). Jidint-05102017.

Sumber bacaan:
Colarusso, Calvin A. (2011). The Golden Age of Childhood: The Elementary School Years. www.child-adolescent-adult-development.info/the-golden-age-of-childhood.html (online). Diakses 21 September 2017.

Kuhn, Deanna (2010). What is Scientific Thinking and How Does it Develop? (online). https://www.tc.columbia.edu/faculty/dk100/faculty-profile/files/ 10_whatisscientificthinkingandhowdoesitdevelop.pdf. Diakses 10 September 2017.

Kundu, Subhash C. (2017). Scientific Thinking is Knowledge Seeking. https://www.researchgate.net/post/What_is_Scientific_thinking_and_how_it_formed (online). Diakses 21 September 2017.

Paul, Richard & Linda Elder (2012). The thinker’s guide to scientific thinking (3rd ed.). https://www.criticalthinking.org/store/get_file.php?inventories_id=170&inventories_files_id=382 (online). Diakses 10 September 2017.

Rohman, Saifur (2017). “Pendidikan Minus Karakter”. Kompas, Senin/18 September 2017.

Zimmerman, Corinne (2007). The development of scientific thinking skills in elementary and middle schools. http://www.cogsci.ucsd.edu/~deak/classes/EDS115/ ZimmermanSciThinkDR07.pdf (online). Diakses 10 September 2017.



Penulis:
MUJAHIDIN AGUS

Guru geografi SMAN 3 Palopo